Kisah

Tampilkan postingan dengan label syaraf terjepit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syaraf terjepit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Februari 2014

Secuil Drama "Low Back Pain" [Part 3]

Masih dengan cerita keluhan nyeri punggung, hari ini, di ruang farmasi/apotek rumah sakit medistra saya nunggu dipanggil untuk menerima obat. Jadilah saya sambil curhat.

Pagi ini sesuai janji bertemu, saya berkunjung ke dr. Indrajana Soediono. SpS di rumah sakit Medistra Gatot Soebroto. Setelah melengkapi syarat administrasi, akhirnya saya jumpa dengan pak dokter. Sepertinya dokter Indra punya banyak fans. Terbukti dari antrian yang lumayan panjang. Untung sebelumnya saya sudah buat janji.

Btw, dr Indra sungguh baik, ramah, dan sangat mendengarkan keluhan pasien. Saya bawa berkas yang sebelumnya saya pernah berobat ke rs. Budhi Jaya. Setelah diperiksa, disuruh melintir sana sini, dr. Indra menyimpulkan ada syaraf yang memang tidak semestinya berada disana (syaraf terjepit), tapi syukurnya masih ringan/tahap awal dan merupakan hal yg bagus saya cepat-cepat mengunjungi dokter.

Karena keluh kesah saya (curhat) akhirnya tidak apa-apa tidak melakukan tindakan MRI untuk penunjang diagnosa. Dokter Indra hanya membutuhkan foto Lumbar Spine dan saya dirujuk ke radiologi. Untuk saat ini saya hanya perlu berolahraga tapi bukan olahraga berat. Olahraga yg dilakukan bukan olahraga yang menghentak rangka tulang belakang seperti lari atau gerakan renang dengan kaki. Saya boleh bersepeda, berjalan kaki, yoga, dan berenang dengan tangan. Tuh...kalian yang mengajarkan saya berlari turun gunung silahkan tanggung jawab. Hahaha...

Dan untuk sementara, demi kebaikan tulang belakang, saya disarankan untuk gantung keril. Oh, OK dok!

Minggu depan saya akan bertemu lagi dengan pak dokter dengan membawa berkas hasil radiologi. Semoga ada perkembangan yang berarti.

Oh iya, satu lagi. Dokter sebelumnya salah memberi obat dan saya tidak diperbolehkan mengkonsumsi obat tersebut karena efeknya tubuh menjadi lemas dan tidak fokus dalam segala hal, juga membuat tekanan darah menjadi rendah.

OK curhatnya segini dulu. Saya sudah dipanggil untuk mengambil obat. Satu yang pasti, asuransi saya tidak mencover semua biaya. Minggu ini saya menghabiskan lebihdari 1 juta rupiah untuk konsultasi tentang penyakit saya.

Kamis, 30 Januari 2014

Secuil Drama "Low Back Pain" [Part 2]

Kamis pagi, hari ini istimewa. Ini adalah hari terakhir bekerja di minggu ini dan hanya sampai jam 12 siang. Hari ini hari ketiga saya mengkonsumsi obat pereda nyeri syarat dari dokter UGD rumah sakit Budhi Jaya. Tidak ada perubahan berarti, kecuali ketika saya mengoleskan analgesik cream ke titik nyeri, maka sementara rasa sakitnya akan hilang.

Maka saya memutuskan untuk menemui dokter Indrajana, specialist syaraf yang berpraktek di rumah sakit Medistra. Sebelumnya saya sudah reserve untuk MRI di rumah sakit Gatot Subroto tetapi saya membatalkannya dengan harapan akan ada second opinion yang hasilnya ke arah lebih hemat tanpa MRI.

Saya reserve untuk hari Jumat sebenarnya, namun karena beaok adalah Tahun Baru China maka operasional rumah sakit tutup dan akan buka kembali hari Sabtu. Jadilah saya membuat janji hari Sabtu, 1 Februari 2014 jam 11 siang di ruang 3B.

Sementara hari Jumat ini akan saya gunakan untuk terapi berenang. Semoga ada perubahan positif untuk penyakit saya....

Rabu, 29 Januari 2014

Secuil Drama "Low Back Pain" [Part 1]

Pernah dengar tentang low back pain atau biasa disebut nyeri punggung bawah? Saya baru mengetahuinya akhir-akhir ini, setelah saya mengalaminya sendiri. OK saya mulai ceritanya...

Kira-kira satu minggu lalu, punggung bagian belakang saya terasa nyeri. Rasa nyeri itu muncul ketika saya atraktif bergerak, berganti posisi dari berdiri ke duduk, duduk ke tiduran, atau berdiri ke tiduran, dan sebaliknya. Awalnya saya mengabaikan rasa nyeri ini dengan harapan besok akan membaik. Tetapi semakin hari semakin nyeri saja. Sampai puncaknya adalah hari Senin, nyeri serius semakin terasa saat saya bekerja sambil duduk di kantor.

Akhirnya saya putuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit, karena ketakutan saya bahwa nyeri punggung belakang bila dibiarkan akan fatal. Pilihan saya jatuh ke rumah sakit Budhi Jaya Jakarta Selatan.

Setelah bertemu dokter, berkonsultasi panjang lebar, dokter mengatakan ada 3 kemungkinan mengapa saya menderita nyeri, yaitu keropos tulang, kandungan asam urat kolesterol dan trigyserilda  tinggi, atau kemungkinan terakhir adalah syaraf terjepit. Saran dokter adalah saya melakukan serangkaian tes laboratorium.

Tes yang pertama dengan melakukan scan tulang untuk mengetahui pengeroposan atau tidak. Setelah berdiam diri sekitar 5 menit untuk masing-masing bagian (tulang tangan, tulang paha hingga selangkangan, dan tulang punggung bagian bawah) saya bisa langsung melihat hasilnya. Hasil scan tulang menyatakan bahwa kondisi tulang saya sangat bagus dan kepadatan tulang normal. Maka dilakukan tes kedua.

Di ruang laboratorium yang berbeda, suster mengambil sample darah saya untuk dicek kadar gula, HDL, LDL, Trigyserilda, dan lain sebagainya. Dan hasil tes inipun memuaskan. Kondisi darah saya baik, semua normal.



Karena dua tes tersebut menunjukkan hasil yg bagus, dokter menyarankan untuk MRI, namun peralatan untuk MRI tidak ada di rumah sakit Budhi Jaya. Peralatan MRI hanya ada di rumah sakit Cipto Mangunkusumo dan rumah sakit Gatot Subroto. Dokter pun memberikan peredam nyeri, jenis tramadol dan eperisone, 2 buah obat yg harus diminum ketika nyeri punggung, ditambah satu cream analgesik, untuk sementara. Efek obatnya pun luar biasa, pusing lemas mual dan tenggorokan kering. Semoga ini tidak berkepanjangan.

Permasalahan selanjutnya adalah MRI bukanlah tindakan pengujian kesehatan yang murah. Angka untuk membayar jasa ini berkisar antara 2,8-3 juta rupiah. Itu belum termasuk biaya dokter dan lain sebagainya...

Besok saya ingin cross check ke rumah sakit Gatot Subroto,menanyakan perkiraan biaya total dan kapan saya bisa tes MRI. Tidak apa-apa saya mengeluarkan uang yang tidak sedikit, namun harapan saya adalah saya bisa sehat dan melakukan aktivitas seperti biasa. Karena...kalau ternyata saya benar-benar tidak bisa pulih 100%, maka saya tidak bisa mengangkat beban yang berat. Dan itu artinya saya harus  pensiun dari kegiatan-kegiatan yang berbau pendakian dan ketinggian...

Semoga saja tidak terjadi apa-apa,dan semua akan baik-baik aaja. Aamiin...