Kisah

Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Januari 2014

Cuma di Indonesia, Ada Salak Sebesar Gunung

"KARENA NAIK GUNUNG NGGA SEMUDAH NONTON FILM 5 CM"



Kali ini kita jalan-jalan ke Sukabumi...
Masih dengan aroma ketinggian, tapi ngga tinggi-tinggi amat sih, cuma 2100an meter diatas permukaan laut tingginya.

Adalah Salaka, berasal dari kata Salakanagara. Cerit yang dirilis wikipedia sih begini :

"Menurut naskah “Pustaka Rayja-rayja I Bhumi Nusantara”, kerajaan di pulau Jawa adalah Salakanagara (artinya: negara perak). Salakanagara didirikan pada tahun 52 Saka (130/131 Masehi). Lokasi kerajaan tersebut dipercaya berada di Teluk Lada, kota Pandeglang, kota yang terkenal dengan hasil logamnya (Pandeglang dalam bahasa Sunda merupakan singkatan dari kata-kata panday dan geulang yang artinya pembuat gelang). Dr. Edi S. Ekajati, sejarawan Sunda, memperkirakan bahwa letak ibukota kerajaan tersebut adalah yang menjadi kota Merak sekarang (merak dalam bahasa Sunda artinya "membuat perak"). Sebagain lagi memperkirakan bahwa kerajaan tersebut terletak di sekitar Gunung Salak, berdasarkan pengucapan kata "Salaka" dan kata "Salak" yang hampir sama."

Akhirnya, perjalanan lagi ini lagi-lagi berdua. Setiap teman-teman pendaki yang diajak nanjak pasti excited mau ikutan untuk kemudian bilang "ogah" karena tujuannya adalah Salak. Ada apa dengan Salak? Bukannya seru ya, ada Salak segede gunung terus kita naikin sampai pucuknya? Hahaha...

Perjalanan dimulai Jumat malam, 11 Oktober 2013 jam 23.00 nunggu bus ke arah Sukabumi ternyata udah ngga ada. Akhirnya naik bus ke arah Ciawi. Dari Ciawi nyambung naik elf sampai Cidahu. Dari Cidahu naik ojek ke basecamp. Sampai di basecamp jam 3 pagi. Suasananya seram, sedikit mistik, pohon pinus tinggi-tinggi... (sebenarnya kalau siang ngga mistik, itu kelihatan mistik karena jam 3 pagi di pinggir hutan. Jadi wajar kalau sepi, kan orang-orang lagi pada bobo kecuali yang jaga).

Setelah daftar, menyerahkan KTP, kita berdua ngga boleh nanjak. Kenapa? Karena cuma berdua. Yang dibolehin nanjak minimal 3 orang. Ya syukurlah ada pendaki 5 orang yang lagi pada bobo di belakang. Jadi gw dan Dika diizinkan nanjak asal bergabung dengan mereka.

Dan pendakian pun dimulai pukul 6 pagi...
Kita bertujuh. Awalnya ada 3 tim. Masing-masing punya anggota 3, 2,  dan 2. Karena disuruh gabung sama penjaga basecamp, kita jadi bertujuh. Perjalanan pertama melewati aspal dengan pepohonan disisi kiri dan kanan.  Ada beberapa camping ground yang diisi, sepertinya ada acara ospek. Eh, ketemu warung, kita makan plus ngopi dulu. Nasi gorengnya enak. Maklum dingin...plus lapar.

Setelah melewati pintu pendakian, pendakian yang sebenarnya pun dimulai....

Perjalanan awal sampai plang penunjuk Kawah Ratu memakan waktu sekitar 1 jam dengan jalanan tangga batu. Lanjut dari plang Kawah Ratu sampai simpang Bajuri butuh waktu sekitar 1 jam juga. Di Simpang Bajuri ini ada sumber air. Kita bisa mengisi air sampai puas. Ada plang yang menunjukkan jalur pendakian dan jalur ke Kawah Ratu (berbeda jalurnya).

Nah...Lewat dari Simpang Bajuri penderitaan ada dimana-mana. Jalanan becek, basah, setapak, sempit, berlumpur, banyak pacet, campur jadi satu. Ciri hutan tropis mewarnai jalur perjalanan. Lebat rimbun basah...apakah itu? Jawabannya ya hutan tropis.

Sepanjang jalur pendakian tidak ada tempat yang lapang untuk istirahat. Penanda di gunung Salak adalah tonggak dengan ukuran Hektometer. Jadi setiap 100 meter kita harusnya ketemu tonggak itu. Kalau ngga ketemu lebih baik istirahat sebentar, tarik nafas, dan berpikir jernih. Jangan panik. Jalur pendakian kadang tertutup rimbunnya semak, karena pendaki sangat minim disini. Sepertinya pendaki malas untuk jalan-jalan ke Gunung Salak. Gossipnya, selain banyak pacet dan berlumpur, gunung Salak juga banyak demitnya. Hahaha...

Tau ngga guys, siang hari kita ngga bisa buka kompor buat masak. Syukurlah tadi pagi sempet beli nasi goreng. Kenapa ngga bisa buka kompor? Karena ngga ada tanah lapang sama sekali. Dan semua tanahnya lembek-lembek gitu. Alhasil makan siang di skip sampai sore menjelang.

Ketika pendakian di hm33-hm34 tanah longsor. Pendaki sangat ngga memungkinkan untuk lewat jalur utama. Kita akhirnya lewat jalur bawah. Tau ngga, jalur bawah itu adalah akar-akar lumut yang posisinya miring, rentan terpeleset, ngga ada pegangan apa-apa, dan di bawahnya adalah jurang. Thanks God, gw bisa cerita ini ke kalian semua supaya lebih prepare kalau mau ke Salak.
Lewat hm34 ada puncak bayangan. Waktu menunjukkan jam 5 sore dan kita ngga mungkin melanjutkan perjalanan. Syukurnya puncak bayangan ini termasuk lapang. Cukuplah 3 tenda ukuran kecil kalau dipasang disana. O iya, gw belum cerita ya. 3 pendaki yang bareng kita ketinggalan. Setelah Simpang Bajuri ngga ketemu lagi. Akhirnya kita tau dari petugas di basecamp kalau mereka balik lagi. Jadi sampai di Puncak bayangan cuma kita berempat. Hehehehe, serem bo... Syukurlah demitnya ngga pada ganggu kita.

Setelah makan malam, hujan turun men. Deressss....dan kita bobo sampe tau-tau pagi. Hahaha...

Pagi-pagi (lupa jam berapa) kita lanjut ke Puncak 1, perjalanan sekitar 1 jam tanpa keril. Pendakian semakin terjal. Tanah lempung campur batu. Licin dan sudut kemiringan yang gila...Seru abis deh! Sampai akhirnya, Puncak!!!
Ini track setelah melewati Simpang Bajuri, padet banget rumputnya.


Pintu Pendakian, Awalnya bertujuh (dengan kang foto) yang tiga balik lagi ngga tau kenapa.

Track batu berlumut, kemiringan sekitar 75 derajat. Dan harus dibantu tali untuk naik keatas.

Track batu campur tanah lengket

Lagi-lagi tracknya ancur-ancuran....

Pura-puranya kayak Twilight, pake sunray gitu...

Ini makam di Puncak Salak. Waktu malem-malem pas kita istirahat bobo, ada suara kaki lewat. Kayaknya sih orang-orang yang dateng ke makam. You know lah ya....

Sama kakang prabu. Aiiiih...

Dan kita di Puncak 1 ^.^

Bunga rumput liar

Pohon ini ada di Simpang Bajuri

Beri hutan, manis, dan ungu di lidah.

Ini puncak 1 Salak. Ada lapangan luas seperti ini karena waktu tragedi Sukhoi nabrak Salak, puncak Salak 1 ini yang dijadikan helipad. Cerita dari penjaga basecamp, waktu itu mayat korban Sukhoi di drop disini. Bentuknya udah ngga karuan. Ada yang cuma tangan. Penggalan kaki. Intinya sudah ngga utuh.

Nah...itu Puncak 2, artinya Puncak tertinggi kedua Gunung Salak. Gunung Salak punya 7 Puncak, Yang paling tinggi puncak 1.

Ini tenda kita di puncak bayangan


So... mau jalan-jalan ke Salak? Siapin peralatan lo selengkap-lengkapnya dan kuatin fisik dan mental lo.



Menyapa Kaldera Gunung Ceremai di Penghujung Tahun 2012 [Part 3]

(lanjutan)

Saya mengatur napas satu-satu, perlahan, hingga tenang. Mata ini menyapu sekeliling. Dan saya merasa tidak nyaman, benar-benar tidak nyaman disini. Sunyi, tidak ada satupun pendaki mendirikan camp di batu Lingga 2200 mdpl. Tapi keletihan mengalahkan segalanya. Kodel, Roy dan Saya mulai berdiskusi untuk mendirikan tenda. Kodel ingin tenda berdiri di bawah pohon dengan alasan menghindari hujan yang langsung jatuh ke tenda. Roy berkata jangan di sana. Saya pun merasa bahwa tenda tidak tepat didirikan di bawah pohon walaupun akan menghindarkan dari kucuran hujan. Saya bersikeras mendirikan tenda dekat dengan jalur pendakian ke arah bawah. Akhirnya Kodel mengalah. Dengan cekatan mereka mulai mendirikan tenda dan saya memasak air. Hujan reda, tas disusun di dalam tenda oleh roy. Barang-barang yang akan digunakan dikeluarkan dari dalam tas. Kodel berganti pakaian di baliktenda karena sudah kedinginan katanya. Roy sudah berganti pakaian. Air sudah matang, minuman sudah saya siapkan. Kemudian saya berganti pakaian, dan Roy menyiapkan makan malam, mie instant. Tidak lama, hujan kembali turun. Semua masuk ke tenda, termasuk mie instant yang sedang dimasak.

Setelah mie instant siap, kami mulai menikmati makan malam nikmat di dalam tenda di bawah guyuran hujan. Ternyata hujannya awet. Hujan turun, kemudian berhenti, turun lagi, berhenti. Sampai akhirnya hujan terus turun entah sampai kapan…

“Roy, denger suara orang pidato ngga?”, tanyaku kepada Roy karena penasaran sejak awal memasak air saya disuguhi suara seperti orang berpidato dan suara berisik seperti di pasar.
“Iya”, jawab Roy singkat. Saya menghela napas panjang.
“Oh, ya udah. Jangan dibahas”, lanjutku mencoba menenangkan diri.

Suara berisik itu sudah hilang, tetapi suara seperti pidato itu masih terdengar. Entah suara apa, yang jelas seperti mendengarkan pidato gaya jaman dulu dari radio dalam jarak yang cukup jauh, sayup-sayup entah menggunakan bahasa apa. Sampai akhirnya saya terbiasa dan kembali berbincang dengan Kodel dan Roy. Setelah makan, kami kekenyangan dan berniat untuk tidur. Tapi Kodel masih ingin ngemil.
“Popcorn-nya belum di bikin…”, ucapnya. Saya sudah ngantuk dan tak memerdulikannya. Ternyata Kodel tetap gigih membuat popcorn. Saat popcorn matang, entah ada kekuatan darimana, saya terbangun dan ikut menikmati popcorn tersebut.

“Kita makan popcorn, emang lagi nonton apaan sih?”, candaku yang langsung dijawab oleh Roy dengan bercanda pula “ Buka aja tendanya, kita nonton yang di depan tenda”.
Saya langsung terdiam. Yang di depan tenda kan pohon besar,pikirku.
“Jangan ngomong itu ah Roy”, ujarku.
“Kenapa?takut ya?” , kata Kodel yang tidak kujawab pertanyaannya.

Tak lama setelah menikamti popcorn bersama, kami terlelap dalam buaian hujan di tengah hutan setelah sebelumnya berjanji akan bangun pukul 03.30 pagi keesokan harinya.
* * *

Tiba-tiba alarm mengagetkanku karena menjerit-jerit tepat di samping telinga. Kodel juga ternyata tebangun mendengar saura alarm itu. Begitu juga dengan Roy. Tapi karena masih sama-sama mengantuk, kami mengingkari janji kami masing-masing dan kembali terlelap hingga pukul 04.30 WIB.

Akhirnya kami bangun, tidak lupa menunaikan ibadah subuh dan minum air hangat sebelum berangkat. Saat bersiap-siap, kami bertemu dua orang pendaki yang ternyata mendirikan camp tepat 1 shelter di bawah kami. Mereka mendaki lebih dulu sementara kami masih bersiap. Diantara obrolan yang saya ingat, kami membahas tentang plat yang diletakkan di bawah pohon di Batu Lingga. Saya tidak tau kalau ada plat kenangan diletakkan disana, karena seingat saya saat ngobrol dengan supir taksi yang membawaku dari Bintaro menuju Lebak Bulus, plat diletakkan di Sangga Buana II. Terukir nama Kasmi dan Wiwit disana, sama-sama meniggal dunia 24 September 1999. Ah…Wiwit, namamu mirip dengan namaku…

Perjalanan pun kami lanjutkan pagi ini, Minggu 30 Desember 2012 pukul 05.00 WIB dengan cuaca yang sepertinya akan cerah. Track yang kami lewati tidak ada yang biasa, tanpa bonus jalan mendatar sama sekali. Perjalanan sedikit lebih mudah karena beban yang kami bawa hanyalah kamera dan logistic secukupnya. Perlahan namun pasti, kami susuri jalan tanpa liku, lurus sejajar memotong jalur kompas.

Udara lembab dan basah menemani setiap langkah kami,menjejak satu demi satu tanah, akar, dan batuan. Puncak semakin dekat saat kami sadari pepohonan semakin menipis. Kurang dari satu jam perjalanan kami sudah berdiri di Sangga Buana 2500 mdpl. Bergegas kami melangkah, terus menyusurin jalan yang semakin berbatu dan curam. Tidak ada pilihan lain, kami harus merambat agar tetap stabil berpegangan dari satu batu ke batu lain. Tuhan kuatkan aku…

Tidak tau berapa lama, kami sudah sampai di Pangasinan 2800 mdpl. Saya sempat bingung, di mana Sangga Buana II karena saya sama sekali tidak melihat plang-nya. Dari Pangasinan, kami bisa melihat Puncak Ceremai. Tapi keliahatannya itu sangat jauh. Entah mengapa saya kembali patah semangat. Perjalanan menuju Puncak Sunan ini sangat menyita emosi dan kesabaran saya. Dengan sisa-sisa tenga dan semangat yang tinggal seujung kuku, saya kembali menanjak. Kodel di depan, sedangkan Roy di belakang. Mungkin karena saya terhilat kesusahan, Roy menawarkan untuk membawakan tas kamera saya. Thanks ya Roy…

Jalur ini sungguh tak bersahabat. Bebatuan, jalur air, dan tidak ada yang lain selain bebatuan dan lagi-lai jalur batu. Yang menjadi pelipur lara adalah sekeliling jalur dihiasi oleh pohon edelweis jawa yang belum berkembang dan langit biru cantik dihias awan berarak-arak. Saya semakin melambat, seperti sudah tidak memiliki tenaga lagi. Kodel terus menyemangati,”Ayo semangat. Tuh puncaknya udah keliatan”.

Berkali-kali ia bicara seperti itu, sampai akhirnya saya menjawab “Boong…dari tadi ga sampe-sampe”.
Kali ini saya benar-benar hopeless. Tertatih, emosi yang semakin tidak stabil, kelelahan, dan rasanya ingin turun kembali ke camp. Ini sudah hampir tiga jam perjalanan dari Batu Lingga, dan tak ada tanda-tanda puncak.






“Puncak tuh. Ayo, bunyi angin nya udah beda…”, sekali lagi Kodel berucap sambil melihat ke saya yang jaraknya kira-kira 20 meter dibawahnya. Saya masa bodoh. Sudah tidak lagi percaya. Pelan-pelan saya melangkah, sesekali berhenti, melangkah lagi, sampai akhirnya terdengar suara Kodel sedang ngobrol dengan orang lain diatas sana.

“Itu puncak…”, ucap saya dalam hati. Tiba-tiba semangat saya kembali membara. Entah kekuatan darimana saya seolah memiliki tenaga ekstra untuk mencapai puncak yang tinggal beberapa langkah lagi…

Dan akhirnya, saya berdiri disini, di puncak Cemerai. Di titik tertinggi jawa Barat. Keharuan sungguh menyeruak di hati saya, dan menahan sekuat apapun adalah sia-sia. Air mata saya menetes, satu-satu dan semakin deras. Semua rasanya tumpah ruah jadi satu. Kagum atas apa yang telah dicipta oleh Penciptaku. Angin yang menerpa wajah, udara dingin yang menyambutku, batu-batu yang melingkari puncak gunung menjaga kaldera kehijauan cantik yang tersembunyi di tengahnya, dan hangat matahari yang memelukku, mengucapkan selamat datang di Puncak Sunan….











Tuhan, terima kasih telah mengizinkanku untuk menikmati indah alam-Mu dari ketinggian 3078 mdpl ini…



Dari jauh, terlukis Gunung Slamet dihiasi awan di sekelilingnya. Dan saya yakin, suatu saat saya akan berdiri di puncaknya….


Many Thanks to Dika and Roy, teman perjalananku kali ini.

Menyapa Kaldera Gunung Ceremai di Penghujung Tahun 2012 [Part 2]

(lanjutan)

Start pukul 07.00 WIB di Sabtu pagi terakhir bulan Desember, dari 600 mdpl kami menyusuri kebun ubi, kebun cengkeh, dan sawah yang menjadi teman perjalanan kami pagi itu. Jalanan aspal hanya muat untuk satu mobil saja. Sesekali kami bertemu penduduk desa yang sedang memanen hasil kebunnya. Jalanan aspal semakin menanjak. Lumayan untuk pemanasan. 40 menit kami lalui dengan bercanda dan bermain dengan tumbuhan putri malu.

Tidak terasa kami sampai di pos pertama, Cibunar 750 mdpl. Ternyata di CIbunar terdapat banyak pendaki yang hendak turun. Ada juga yang baru akan naik tetapi mengisi perut di warung yang ada di sana. Kami beristirahat sebentar, meminum air di botol kecil hingga habis, dan mengisinya kembali karena tidak ada sumber air di sepanjang jalur Linggarjati kecuali di Cibunar ini.




Perjalanan kami lanjutkan, melewati jalan setapak yang semakin menanjak, kebun milik warga di sisi kiri dan kanan, sampai melewati dua pondokan tidak berpenghuni. Sepertinya dulu pondokan ini dibangun untuk dijadikan warung. Perjalanan terus kami lanjutkan. Perlahan namun pasti kami melangkah, menyusuri hutan pinus yang cantik diiringi nyanyian burung-burung. Sungguh suatu hal yang tidak bisa dinikmati setiap hari. Kami terus berjalan, meninggalkan hutan pinus yang cantik menuju hutan. Di sisi-sisinya terdapat pohon kopi. Juga pepohonan pisang yang tinggi menjulang, sampai pohon salak dan nanas menghiasi kanan dan kiri sepanjang jalan kami.

Hutan semakin lebat, pohon-pohon semakin tinggi dan cahaya semakin sedikit. Saya merasa tidak nyaman memasuki hutan ini. Sepanjang jalan saya berdoa dalam hati, semoga selamat di perjalanan dan tidak terjadi hal-hal yang membahayakan. Jalur pendakian lumayan menanjak, seperti jalur air hanya sanya terkadang terdapat jalan setapak datar sebagai bonusnya. Sekitar 1,5 jam kami sampai di Leuweng Datar 1225 mdpl. Kami rehat sejenak, menikmati udara segar masuk ke rongga paru-paru yang tersengal-sengal. Tidak lama, kami lanjutkan kembali perjalanan. Jalur masih mirip seperti jalur dari Cibunar ke Leuweng Datar, namun kali ini sudah tidak ada lagi kebun milik warga. Tanah lembab kami pijaki selangkah demi selangkah. Sesekali kami bernyanyi demi mengusir lelah. Peluh bercucuran dan baju mulai basah. Tetapi semangat kami terus memacu, ingin menuju tempat yang lebih tinggi. Tidak lama, kami sampai di Condang Amis. Aku tersenyum, dan berpikir dalam hati bahwa pendakian semakin dekat menuju puncak sunan. Target kami untuk bermalam adalah Sangga Buana II, 7 pos lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Di bawah kami menyusul 4 pendaki, yang ternyata sama-sama dari tempatku berasal, Bintaro. Kami ngobrol ala kadarnya, satu diantara mereka pernah mendaki ceremai sebelumnya. Dan kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali setelah berpamitan dengan mereka.

Perjalanan kami lanjutkan, dan kali ini jalur pendakian semakin curam. Ya…karakter suatu gunung. Semakin keatas semakin sadis track yang akan dilalui. Kami terus berjalan, perlahan. Karena kaki-kaki kami mulai letih mendaki. Sesekali kami berhenti, menarik napas dengan cepat beberapa kali untuk menstabilkan kembali detak jantung yang menderu. Setelah mendaki lebih dari satu jam, kami menemukan tempat yang lumayan lapang. Ya…kami sampai di pos Kuburan Kuda 1450 mdpl kira-kira jam 11.10 WIB. Entah mengapa rasanya saya sangat mengantuk di sana. Namun saya berpikir ini adalah suatu kewajaran karena kelelahan dan kurang istirahat semalam. Ternyata Roy da Kodel pun merasakan hal yang sama. Kami memutuskan tidur sejenak di sini. Mungkin kira-kira 10-15 menit kami terlelap. Dan saat terbangun, saya merasa badan saya sangat lemas karena tidur yang tidak memuaskan. Pendaki yang kami temui di bawah belum sampai. Dan kami pun belum bertemu dengan pendaki yang turun.

Saya kencangkan kembali belt carrier bag, dan bersiap mendaki. Tetapi melihat tracknya, saya geleng-geleng kepala. Sudah mulai menanjak curam, 70 derajat. Kontur tanahnya lembab dan lengket. Akan sangat licin bila hujan turun. Semoga perjalanan ini tidak diiringi guyuran hujan, doa saya dalam hati.
Perlahan, dengan berpegang pada akar-akar pepohonan yang menyemb ul dari tanah, saya mendaki, satu-persatu. Nafas yang semakin tersengal, detak jantung yang semakin menderu, peluh yang bercucuran deras, menjadi teman kami dalam perjalanan. Target kami pukul 12.30 sudah sampai di pos pangalap agar bisa istirahat siang sambil mengisi perut. Benar saja, saya bahagia ketika melihat plang yang terikat di pohon “Pangalap 1650 mdpl”. Bahagia karena bisa istirahat, melepas lelah, mengisi perut dan bercanda tanpa napas putus-putus satu-satu.

Disana ada 2 tenda yang didirikan. Sepertinya pendaki-pendaki itu sedang summit karena suasananya sepi. Hanya ada 2 orang yang sedang beristirahat sambil makan roti, seorang pendaki laki-laki dan seorang lagi perempuan. Mereka menawarkan air yang tersisa di botol 1,5 liter. Air nya masih penuh. Langsung saja kami pergunakan untuk masak air untuk membuat kopi dan memasak nasi. Kemudian dilanjutkan dengan menggoreng sosis, tempe tepung, dan kerupuk. Terakhir, sup macaroni sayuran menjadi penutup acara masak-memasak siang ini. Sungguh merupakan makan siang yang mewah…

Kami banyak bercanda di pos ini, menyusun makan sedemikian rupa, menghiasnya dengan daun-daunan, dan berfoto dengan hasil masakan kami, juga menunaikan ibadah yang langsung kami gabung menjadi satu waktu. Tidak terasa sudah pukul 15.00 sore. Ternyata kami sangat lama disini, lupa waktu.seharusnya istirahat siang bisa 1 jam saja, molor menjadi 2,5 jam.

Pendakian pun kami lanjutkan. Track semakin curam. Tidak ada ampun, hampir terus-terusan menanjak hingga 70 derajat kemiringannya. Saya semakin lelah, sepertinya yang saya makan tadi tidak cukup memulihkan energi yang telah terpakai. Setiap kali melihat tanah yang lapang, saya berharap bahwa itu adalah pos Tanjakan Seruni. Tetapi harapan saya sia-sia, sampai satu jam mendaki saya belum menemukan pos itu. Napas sudah semakin sulit, langkah kaki semakin gontai. Sampai akhirnya kira-kira pukul 16.30 kami tiba di pos Tanjakan Seruni 1825 mdpl. Sejauh ini mendaki, kami belum berada di ketinggian lebih dari 2000 mdpl. Saya sudah lelah, hari semakin sore. Saya khawatir tidak akan sampai di Sangga Buana hingga malam nanti.


Kami tidak ingin berlama-lama beristirahat. Terus memburu waktu, kami tetap bertekad melangkah. Saya sudah tindak ingat lagi seperti apa kondisi kanan dan kiri sepanjang jalur pendakian ini. Yang saya ingat hanya ada jalur air, kecuraman, batu-batu, jalur air lagi, akar, pohon, dan entah apalagi. Sekeliling sangat rimbun dengan semak hutan. Tanjakan ini benar-benar menyiksa, tidak kunjung sampai, dan entah sampai kapan. Napas semakin terengah, dan saya mulai limbung. Kepala saya pusing, dan terada tekanan darah saya menurun. Saya minta break sebentar, duduk, bersandar, dan memejamkan mata. Lima menit sudah terlewati, tapi saya tak ingin beranjak, saya merasa sangat lelah. “Ayo, jalan lagi”, ucap Kodel menyadarkan saya bahwa perjalanan masih jauh.

Kembali kami mneyusuri jalanan tanah lembab dan berakar, memanjat dari satu pijakan ke pijakan lain. Saya merasa putus harapan, hampir menyerah, ingin rasanya berkata “break” atau “ pulang aja yuk” dan “cari lahan buat ng-camp ya, capeee..”. Tapi syukurlah kata-kata itu tidak keluar dari bibir saya. Saya belum menyerah. Sampai akhirnya kami berada di pos Bapa Tere 2025 mdpl. Masih 3 pos lagi, dan saya bisa tidur dengan nyaman…

Kami terus berjalan, menahan beban punggung yang semakin berat, ketinggian yang sudah melewati 2000 mdpl ini menyemangati saya untuk terus melangkah. Cahaya semakin sedikit, hari semakin gelap. Kami bertemu dengan dua orang pendaki yang hendak turun, dan mereka menyarankan untuk membangun camp si shelter-shelter kecil sepanjang pendakian antara Bapa Tere – Batu Lingga. Sepertinya mereka ingin menyampaikan sesuatu, hal yang tersirat, bahwa sebaiknya tidak mendirikan camp di Batu Lingga. Saya, yang kelelahan ini, terserah pada Kodel dan Roy akan mendirikan camp dimana, yang penting bisa istirahat dan meluruskan kaki-kaki yang semakin pegal.

Perjalanan berlanjut, kami bertemu pendaki yang mendirikan camp di jalan dengan tanah sedikit lapang. Mereka memberikan 1 botol air kepada kami. Awalnya kami menolak karena persediaan air sangat cukup. Tetapi entah mengapa mereka sangat memaksa, dan Roy menerima air tersebut. Kami berterima kasih atas pemberian air tersebut. Lumayan sebagai cadangan. Saya dan Dika berpikir bahwa kami sangat hoki, 2 kali diberi air oleh pendaki, total 3 liter. Jumlah yang lumayan banyak untuk 3 orang pendaki. Tiba-tiba dijalan hujan mengguyur tanpa ampun. Hari sudah gelap, dan masing-masing dari kami menyalakan senter sebagai satu-satunya penerangan.

“Kita camp di Batu Lingga aja”, ucap Kodel waktu itu. Saya dan Roy mengiyakan. Perjalanan semakin berat, jalanan yang licin, hujan yang turun dengan derasnya, dan malam hari, membuat langkah kaki saya terseok, melambat, kelelahan. Saya semakin limbung, serasa sudah tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan. Sedikit melangkah, saya terhenti. Melangkah lagi, dan berhenti lagi. Mengumpulkan napas yang semakin sesak karena oksigen yang semakin tipis dan harus berebut dengan tumbuhan-tumbuhan yang menjulang.

“kalau jam setengah lapan belum sampe Batu Lingga, kita camp di jalan cari tanah lapang”, kali ini Kodel berkata seperti tahu bahwa saya sudah tidak kuat lagi. Jalanan semakin sulit untuk dilalui, beban semakin berat untuk digendong, dan kaki-kaki ini semakin lemah mengikuti jalanan yang terus mendaki. Saya berharap semoga cepat bertemu dengan Batu Lingga. Tapi sepertinya waktu berjalan melambat. Hujan belum juga berhenti. Sedangkan saya, hampir menangis putus asa. Sampai akhirnya, Roy berkata “Batu Lingga” tepat pukul 19.00 malam.Alhamdulillah… (bersambung)

Menyapa Kaldera Gunung Ceremai di Penghujung Tahun 2012 [Part1]


Disinilah…
Di titik tertinggi di Jawa Barat…
Aku berdiri, tertegun, tanpa mampu bicara
Bahwa Kau mencipta segalanya
Dan aku adalah bukan siapa-siapa…





Ya…
Kata-kata di atas benar-benar melukiskan isi hati saya saat menjejakkan kaki di titik tertinggi bumi priyangan Jawa Barat. Saat letih terhapus hamparan langit biru dan gumpalan awan cantik sebagai nuansa hiasannya. Batu-batu cadas mengelilingi seluruh puncak Ceremai, sang bibir kaldera…

Jumat malam, 28 Desember 2012 saya bersiap mengemasi barang-barang yang akan dibawa untuk perjalanan kali ini. Perjalanan yang telah direncanakan tiga minggu sebelumnya dan sempat gagal berangkat di akhir minggu lalu karena ritme pekerjaan yang ternyata tidak bisa ditinggalkan dan kondisi fisik yang kurang baik. Saya pergi bersama Dika/Kodel dan Roy. Di banding mereka, saya adalah pendaki abal-abal yang minim pengalaman. Berbekal tekad yang kuat dan rasa kagum akan sebuah titik ketinggian, saya menggendong carrier bag yang penuh muatan.

Pukul 22.00 WIB, kami bertemu di terminal Lebak Bulus, karena terminal itulah akses yang palng dekat bagi kami bertiga untuk berkumpul. Setelah saling berjabat tangan dan menyapa, kami buru-buru memasuki terminal dengan membayar retribusi Rp. 3.000,- untuk tiga orang. Kami sedikit pesimis, apakah akan mendapatkan bus yang menuju Cirebon. Berdasarkan informasi dari bapak penjaga pintu terminal, bus ekonomi menuju Cirebon akan berangkat sebentar lagi. Beruntungnya kami, saat kami naik bus tersebut, ternyata masih tersisa 3 kursi walaupun harus menekuk pinggang 90 derajat. Maklum, bus yang kami tumpangi adalah bus ekonomi, Lur Agung, jurusan Sindang Laut Cirebon. Hanya bus itu yang menuju Cirebon.

Kondektur bus mulai menarik ongkos dari setiap penumpang, Rp 45.000,- dan tertulis di tiketnya “lindungilah dalam perjalanan sampai tempat tujuan”.Bus pun bergerak lambat larut dalam kemacetan Jakarta. Namun itu hanya sesaat, karena setelah melewati pintu tol, supir bus mulai menampilkan kehebatannya. Bus mulai ganas berlari melewati setiap kendaraan, seakan tidak ingin kalah dalan berlomba lari marathon. Sang supir tidak perduli bahwa pemumpang berjejalan berdiri. Kanan, kiri, tengah, semua dilewati. Sampai akhirnya saya terlelap diantara penumpang yang entah sedang berpikir hal yang sama atau tidak tentang sang supir.

Tiba-tiba saya terbangun saat mendengar suara keras dari sisi sebelah kiri. Ternyata sang supir terlalu dekat dengan sebuah truck di sisi kiri sehingga menyenggol spion. Sungguh merupakan hal yang membuat jantung saya terpacu, deg-degan. Tetapi karena ngantuk yang sangat hebat, saya kembali tertidur. Entah dimana dan jam berapa, saya mendapati kemacetan sepanjang jalur pantura. Dan lagi-lagi macan pantura ini menunjukkan aksi mencekamnnya. Ya…sang supir membawa kendaraannya ke sisi lawan yang lebih sepi dan lancer. Pembatas jalan pun dilaluinya sehingga bus benar-benar melawan arus.

Sampai akhirnya sang kondektur berteriak-teriak “Kuningan Linggar jati Cilimus” saya dan kedua teman saya turun di sebuah persimpangan sepi. Terdapat plang menuju Semarang, Kuningan, dan Sindang Laut dengan arah yang berbeda. Kami menyeberangi jalanan sangat hati-hati. Di sini ternyata banyak pembalap abal-abal yang sebenarnya tidak ada lawannya karena mengendara di pagi buta, pukul 04.00 pagi.

Tidak lama, melintas mobil Avanza, seorang bapak yang duduk di samping supir menanyakan arah tujuan kami “ Mau ke Ceremai ya dek? Lewat Linggarjati?bareng aja, soalnya mobil kea rah Cilimus belum ada kalau subuh begini” kira-kira begitu sang bapak menawarkan.Sesaat saya ragu. Tapi Kodel meyakinkan dengan isyarat mata “ tidak apa-apa”. Akhirnya kami bertiga menumpang mobil itu. Dengan kesepakatan mendadak kami memberikan uang rokok untuk sang supir sebesar Rp.50.000,-. Hitung-hitung sebagai ongkos dari pertigaan Sindang Laut tadi. Kami berhenti di depan Indomart dekat terminal Cilimus untuk membeli logistic yang kurang. Ternyata sang bapak bersedia tanpa kami minta mengantarkan sampai ke pertigaan Linggarjati melewati terminal Cilimus padahal tujuan awalnya adalah Cilimus. Dengan senang hati kami mengiyakan, dan tanpa diduga kami malah diantar sampai pos pendaftaran basecamp Linggarjati. Terima kasih ya pak… (bersambung)

Foto ini diambil sesaat sebelum pendakian

Kamis, 16 Januari 2014

Perjalanan Pendakian Pertama : Puncak Pangrango

Telaaaat banget...
Udah lama ngga buka-buka blog. Akhirnya menyempatkan diri lagi untuk mencurahkan isi hati. Mumpung ada waktu luang....

Awalnya, gara-gara diracun sama Kodel, sahabat terbaik gw. Kodel ngajak ng-trip ke Baduy setelah sebelumnya main-main ke Pangandaran, biar ga galau mulu katanya. Hihihi...maklumlah galau tiada akhir waktu itu. Tapi kali ini ajakannya ke Baduy ala backpacker, ngga seperti trip ke Pangandaran bawa mobil sendiri. Sayangnya, pas hari H mau berangkat, fisik kita berdua sama-sama drop, demam, dan ga memungkinkan untuk pergi ikutan trip ke Baduy bareng Rahmat.

Kecewa udah pasti, karena sebelumnya gw anak pingitan yang ngga pernah kemana-mana, ngga pernah mblusuk-mblusuk ke hutan rimba. Jadi pasti semangatnya berlebihan donk karena mau ikutan ng-trip. Tapi ternyata Kodel ngajak gabung ke trip keliling 3 pulau di kepulauan seribu. Sayangnya waktu itu gw kurang begitu semangat karena air laut di sekitaran pulau Untung Jawa masih tergolong coklat. Terus gw diajakin maen-maen ke Gunung Padang Cianjur, bikepackeran bareng Agiezt n Roni. Nah, kepincut dah gw sama udara gunung.

Terinspirasi dari novel 5 cm, Kodel meng-arrange trip ke Gunung Pangrango. Katanya sih gunung paling tinggi kedua di Jawa Barat, 3018m dpl. Jelas gw seneng banget, apalagi waktu itu gw ngga cuma berdua sama Kodel, ada Bapak Dani, Rofiq, juga Hisan yang ikutan gabung di trip ini. Segala gear mulai dikumpulin karena gw yang paling parah, ngga punya gear apa-apa buat safety di gunung. Belanja ini itu, mulai dari keril, sleeping bag, matrass, windstopper jacket, kupluk, sepatu treking, rain coat, dasb. Abis deh duit tabungan (meweeeeek). But, it's worthed. Gw puas, dan kecanduan ng-trip sampe sekarang.

Rencananya, kita mau lewatin 2 puncak, Pangrango, lanjut ke Gede. Masuk lewat jalur Cibodas, dan keluar di jalur Gunung Putri.Tanggal 13 Juli 2012 malam hari, kita berlima janjian ngumpul di rumah Rofiq, daerah Margonda Depok. Jam 12 malem kita berangkat menuju terminal kampung rambutan karena sebelumnya nungguin Kodel ngibulin bokapnya Rofiq tentang kamera dan lensa. Kita naik bus ekonomi jurusan Tasikmalaya. Waktu itu per orang kena charge 17500 untuk ongkos busnya. Ternyata perjalanan ngga lama-lama banget. jam 3 pagi tau-tau sampe di Cibodas.

Suasana udah berasa dinginnya, maklum daerah pegunungan walaupun cuma di kaki gunung. Di Cibodas ada alfamart, sahabat para pendaki, yang buka 24 jam. Kita beli tambahan logistik disana, numpang pipis juga, plus beli kartu poker walaupun akhirnya ga kepake di gunung. Hahaha...

Jam setengah 5, kita semua udah berasa laper. Mungkin karena udaranya dingin. Dan di seberang alfamart pas banget ada abang-abang yang jualan bubur ayam. Makan deh kita disana, per porsi harganya 7000 kalo ngga pake sate usus or ati-ampela. Jam 5 kita lanjut ke atas, numpang sholat di kantor TNGGP, tempat dimana kita registrasi kalo mau naik Gede-Pangrango. Waktu itu kita sewa angkot dengan perjalanan sekitar 20 menit, per orang kena charge 5000, agak mahal sih tapi ngga apa-apa deh save energi. Apalagi buat pemula kayak gw. Lumayan tuh jalan ke atas bisa sejam sendiri.

Jam 6 pagi 14 Juli 2012, kita tepat di gerbang TNGGP Cibodas. Setelah lapor ke penjaga pos, mulailah pendakian santai sambil ketawa-ketawa plus curhat (kali ini curhatnya ga pake galau). Lewat telaga biru, jembatan, lanjut sampe kandang batu, kita kelaperan. Pas jam 12 siang kita take a break di sana, sholat, bobo-bobo bentar, dan masak-masak deh kita disana, nasi plus sup sayuran ala Pangrango. Rasanya, ngga usah ditanya, ajiiiib!

Setelah kenyang dan cape berkurang, kita lanjut menapaki tanah Pangrango selangkah demi selangkah. Track yang dilewati masih cukup landai sampai akhirnya jam 3 sore sampai di Kandang Badak. Waktu itu kita memutuskan untuk lanjut, dan berniat mendirikan tenda di Mandalawangi. Semangat kami masih membara. jalan setapak yang semakin curam kami lalui, pohon-pohon tumbang semakin banyak. Sampai lewat magrib, kami masih terus mendaki, bergantung pada akar dan pepohonan sebagai pegangan.

Waktu sudah menunjukkan jam 8 malam, dan kami masih belum melihat tanda-tanda puncak Pangrango. Napas gw juga udah putus-putus, satu-satu, dan semakin sesak. Udara begitu dingin, dari kompas milik Kodel menunjukkan suhu udara 5 derajat Celcius. Pantas saja, walaupun sudah berjaket dan sarung tangan, gw masih merasa dingin. Rofiq pun memutuskan untuk break sebentar karena kondisi gw makin memburuk, udah ngga bisa fokus dan ngga ngrespon waktu diajak ngomong. Ventolin pun akhirnya gw gunain untuk membantu melegakan napas gw yang makin sesak,ya...asma gw kumat.

Akhirnya tim memutuskan bakal buka tenda dimanapun asalkan ada tanah yang lumayan lapang dan cukup untuk ng-camp. Jam 9 malam lewat, kita dapet lahan yang lumayan luas. Kodel dan Hisan dengan cekatan pasang tenda,Rofik dan Bapak Dani mulai menyalakan kompor dan masak makan malam, apalagi kalo bukan mie instans yang bisa dengan cepat dimasak. Setelah tenda berdiri sempurna, gw ganti baju karena baju gw basah karena keringat,dan langsung masuk sleeping bag karena bener-bener kedinginan sampe tangan dan kaki gw mati rasa. Setelah makan 3-4 suap, gw ngga inget apa-apa lagi. Sampe tau-tau kebangun jam 12 malem....

Walaupun udah di dalam sleeping bag dan tenda tertutup rapat tapi terasa banget dinginnya. Ternyata ini yang dinamakan gagal tenda. Baru kali ini gw bener-bener  merasakan dingin yang luar biasa. Sampai susah untuk tidur lagi walaupun badan terasa letih. Lama gw kebangun, sampe terdengar suara seseorang menggigil. Ternyata itu Hisan, dan dia ada di luar tenda bersama bapak Dani. Gila!!!! Sedingin ini mereka ada di luar karena tenda yang dibawa cuma cukup untuk 3 orang. Akhirnya kapasitas tenda dipaksa menjadi 4 orang, dan gw keluar untuk memanaskan air susu jahe yang sudah dingin. Lumayan untuk menghangatkan kaki dan tangan Hisan yang terlanjur beku.

Pagi hari, jam 5. Udara tetap dingin. dengan terpaksa gw bangun dan duduk terlipat karena tenda yang sempit dan Kodel ingin sholat subuh. Setelah itu gw yang sholat dengan tubuh tetap dibalut SB. Ngga lama, kita tidur lagi. dan jam 6 baru beranjak keluar tenda untuk summit menuju puncak Pangrango.

Tidak sampai 20 menit ternyata, dihadapan gw berdiri tegak triangulasi Pangrango 3018 mdpl. Jadi semalaman tidur di bibir jurang kalau dipaksa jalan, sudah sampai puncaknya.Hahaha..
Cukup lama kami foto di puncak dengan latar gunung Gede. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju alun-alun mandalawangi, padang Edelweis cantik yang baru pertama kali gw lihat dengan mata kepala gw sendiri. Rasanya campur aduk, haru menyeruak, kagum, takjub dengan keindahan ciptaan dan lukisan alam Sang Maha Pencipta. Baru kali ini gw melihat indahnya alam secara langsung, merasakan angin yang menyapu wajah, dingin yang ramah, bunga-bunga cantik, rumput yang luas, aaaah...bener-bener indah. Dan gw ngga rugi, bener-bener ngga rugi ikut mendaki bersama kalian...








Take nothing but picture. Leave nothing but footprint. Kill nothing but the time. Because i'm the backpacker, and promise will always love the world,ever after....