Kisah

Tampilkan postingan dengan label hiking. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hiking. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Januari 2014

Menyapa Kaldera Gunung Ceremai di Penghujung Tahun 2012 [Part 3]

(lanjutan)

Saya mengatur napas satu-satu, perlahan, hingga tenang. Mata ini menyapu sekeliling. Dan saya merasa tidak nyaman, benar-benar tidak nyaman disini. Sunyi, tidak ada satupun pendaki mendirikan camp di batu Lingga 2200 mdpl. Tapi keletihan mengalahkan segalanya. Kodel, Roy dan Saya mulai berdiskusi untuk mendirikan tenda. Kodel ingin tenda berdiri di bawah pohon dengan alasan menghindari hujan yang langsung jatuh ke tenda. Roy berkata jangan di sana. Saya pun merasa bahwa tenda tidak tepat didirikan di bawah pohon walaupun akan menghindarkan dari kucuran hujan. Saya bersikeras mendirikan tenda dekat dengan jalur pendakian ke arah bawah. Akhirnya Kodel mengalah. Dengan cekatan mereka mulai mendirikan tenda dan saya memasak air. Hujan reda, tas disusun di dalam tenda oleh roy. Barang-barang yang akan digunakan dikeluarkan dari dalam tas. Kodel berganti pakaian di baliktenda karena sudah kedinginan katanya. Roy sudah berganti pakaian. Air sudah matang, minuman sudah saya siapkan. Kemudian saya berganti pakaian, dan Roy menyiapkan makan malam, mie instant. Tidak lama, hujan kembali turun. Semua masuk ke tenda, termasuk mie instant yang sedang dimasak.

Setelah mie instant siap, kami mulai menikmati makan malam nikmat di dalam tenda di bawah guyuran hujan. Ternyata hujannya awet. Hujan turun, kemudian berhenti, turun lagi, berhenti. Sampai akhirnya hujan terus turun entah sampai kapan…

“Roy, denger suara orang pidato ngga?”, tanyaku kepada Roy karena penasaran sejak awal memasak air saya disuguhi suara seperti orang berpidato dan suara berisik seperti di pasar.
“Iya”, jawab Roy singkat. Saya menghela napas panjang.
“Oh, ya udah. Jangan dibahas”, lanjutku mencoba menenangkan diri.

Suara berisik itu sudah hilang, tetapi suara seperti pidato itu masih terdengar. Entah suara apa, yang jelas seperti mendengarkan pidato gaya jaman dulu dari radio dalam jarak yang cukup jauh, sayup-sayup entah menggunakan bahasa apa. Sampai akhirnya saya terbiasa dan kembali berbincang dengan Kodel dan Roy. Setelah makan, kami kekenyangan dan berniat untuk tidur. Tapi Kodel masih ingin ngemil.
“Popcorn-nya belum di bikin…”, ucapnya. Saya sudah ngantuk dan tak memerdulikannya. Ternyata Kodel tetap gigih membuat popcorn. Saat popcorn matang, entah ada kekuatan darimana, saya terbangun dan ikut menikmati popcorn tersebut.

“Kita makan popcorn, emang lagi nonton apaan sih?”, candaku yang langsung dijawab oleh Roy dengan bercanda pula “ Buka aja tendanya, kita nonton yang di depan tenda”.
Saya langsung terdiam. Yang di depan tenda kan pohon besar,pikirku.
“Jangan ngomong itu ah Roy”, ujarku.
“Kenapa?takut ya?” , kata Kodel yang tidak kujawab pertanyaannya.

Tak lama setelah menikamti popcorn bersama, kami terlelap dalam buaian hujan di tengah hutan setelah sebelumnya berjanji akan bangun pukul 03.30 pagi keesokan harinya.
* * *

Tiba-tiba alarm mengagetkanku karena menjerit-jerit tepat di samping telinga. Kodel juga ternyata tebangun mendengar saura alarm itu. Begitu juga dengan Roy. Tapi karena masih sama-sama mengantuk, kami mengingkari janji kami masing-masing dan kembali terlelap hingga pukul 04.30 WIB.

Akhirnya kami bangun, tidak lupa menunaikan ibadah subuh dan minum air hangat sebelum berangkat. Saat bersiap-siap, kami bertemu dua orang pendaki yang ternyata mendirikan camp tepat 1 shelter di bawah kami. Mereka mendaki lebih dulu sementara kami masih bersiap. Diantara obrolan yang saya ingat, kami membahas tentang plat yang diletakkan di bawah pohon di Batu Lingga. Saya tidak tau kalau ada plat kenangan diletakkan disana, karena seingat saya saat ngobrol dengan supir taksi yang membawaku dari Bintaro menuju Lebak Bulus, plat diletakkan di Sangga Buana II. Terukir nama Kasmi dan Wiwit disana, sama-sama meniggal dunia 24 September 1999. Ah…Wiwit, namamu mirip dengan namaku…

Perjalanan pun kami lanjutkan pagi ini, Minggu 30 Desember 2012 pukul 05.00 WIB dengan cuaca yang sepertinya akan cerah. Track yang kami lewati tidak ada yang biasa, tanpa bonus jalan mendatar sama sekali. Perjalanan sedikit lebih mudah karena beban yang kami bawa hanyalah kamera dan logistic secukupnya. Perlahan namun pasti, kami susuri jalan tanpa liku, lurus sejajar memotong jalur kompas.

Udara lembab dan basah menemani setiap langkah kami,menjejak satu demi satu tanah, akar, dan batuan. Puncak semakin dekat saat kami sadari pepohonan semakin menipis. Kurang dari satu jam perjalanan kami sudah berdiri di Sangga Buana 2500 mdpl. Bergegas kami melangkah, terus menyusurin jalan yang semakin berbatu dan curam. Tidak ada pilihan lain, kami harus merambat agar tetap stabil berpegangan dari satu batu ke batu lain. Tuhan kuatkan aku…

Tidak tau berapa lama, kami sudah sampai di Pangasinan 2800 mdpl. Saya sempat bingung, di mana Sangga Buana II karena saya sama sekali tidak melihat plang-nya. Dari Pangasinan, kami bisa melihat Puncak Ceremai. Tapi keliahatannya itu sangat jauh. Entah mengapa saya kembali patah semangat. Perjalanan menuju Puncak Sunan ini sangat menyita emosi dan kesabaran saya. Dengan sisa-sisa tenga dan semangat yang tinggal seujung kuku, saya kembali menanjak. Kodel di depan, sedangkan Roy di belakang. Mungkin karena saya terhilat kesusahan, Roy menawarkan untuk membawakan tas kamera saya. Thanks ya Roy…

Jalur ini sungguh tak bersahabat. Bebatuan, jalur air, dan tidak ada yang lain selain bebatuan dan lagi-lai jalur batu. Yang menjadi pelipur lara adalah sekeliling jalur dihiasi oleh pohon edelweis jawa yang belum berkembang dan langit biru cantik dihias awan berarak-arak. Saya semakin melambat, seperti sudah tidak memiliki tenaga lagi. Kodel terus menyemangati,”Ayo semangat. Tuh puncaknya udah keliatan”.

Berkali-kali ia bicara seperti itu, sampai akhirnya saya menjawab “Boong…dari tadi ga sampe-sampe”.
Kali ini saya benar-benar hopeless. Tertatih, emosi yang semakin tidak stabil, kelelahan, dan rasanya ingin turun kembali ke camp. Ini sudah hampir tiga jam perjalanan dari Batu Lingga, dan tak ada tanda-tanda puncak.






“Puncak tuh. Ayo, bunyi angin nya udah beda…”, sekali lagi Kodel berucap sambil melihat ke saya yang jaraknya kira-kira 20 meter dibawahnya. Saya masa bodoh. Sudah tidak lagi percaya. Pelan-pelan saya melangkah, sesekali berhenti, melangkah lagi, sampai akhirnya terdengar suara Kodel sedang ngobrol dengan orang lain diatas sana.

“Itu puncak…”, ucap saya dalam hati. Tiba-tiba semangat saya kembali membara. Entah kekuatan darimana saya seolah memiliki tenaga ekstra untuk mencapai puncak yang tinggal beberapa langkah lagi…

Dan akhirnya, saya berdiri disini, di puncak Cemerai. Di titik tertinggi jawa Barat. Keharuan sungguh menyeruak di hati saya, dan menahan sekuat apapun adalah sia-sia. Air mata saya menetes, satu-satu dan semakin deras. Semua rasanya tumpah ruah jadi satu. Kagum atas apa yang telah dicipta oleh Penciptaku. Angin yang menerpa wajah, udara dingin yang menyambutku, batu-batu yang melingkari puncak gunung menjaga kaldera kehijauan cantik yang tersembunyi di tengahnya, dan hangat matahari yang memelukku, mengucapkan selamat datang di Puncak Sunan….











Tuhan, terima kasih telah mengizinkanku untuk menikmati indah alam-Mu dari ketinggian 3078 mdpl ini…



Dari jauh, terlukis Gunung Slamet dihiasi awan di sekelilingnya. Dan saya yakin, suatu saat saya akan berdiri di puncaknya….


Many Thanks to Dika and Roy, teman perjalananku kali ini.

Menyapa Kaldera Gunung Ceremai di Penghujung Tahun 2012 [Part 2]

(lanjutan)

Start pukul 07.00 WIB di Sabtu pagi terakhir bulan Desember, dari 600 mdpl kami menyusuri kebun ubi, kebun cengkeh, dan sawah yang menjadi teman perjalanan kami pagi itu. Jalanan aspal hanya muat untuk satu mobil saja. Sesekali kami bertemu penduduk desa yang sedang memanen hasil kebunnya. Jalanan aspal semakin menanjak. Lumayan untuk pemanasan. 40 menit kami lalui dengan bercanda dan bermain dengan tumbuhan putri malu.

Tidak terasa kami sampai di pos pertama, Cibunar 750 mdpl. Ternyata di CIbunar terdapat banyak pendaki yang hendak turun. Ada juga yang baru akan naik tetapi mengisi perut di warung yang ada di sana. Kami beristirahat sebentar, meminum air di botol kecil hingga habis, dan mengisinya kembali karena tidak ada sumber air di sepanjang jalur Linggarjati kecuali di Cibunar ini.




Perjalanan kami lanjutkan, melewati jalan setapak yang semakin menanjak, kebun milik warga di sisi kiri dan kanan, sampai melewati dua pondokan tidak berpenghuni. Sepertinya dulu pondokan ini dibangun untuk dijadikan warung. Perjalanan terus kami lanjutkan. Perlahan namun pasti kami melangkah, menyusuri hutan pinus yang cantik diiringi nyanyian burung-burung. Sungguh suatu hal yang tidak bisa dinikmati setiap hari. Kami terus berjalan, meninggalkan hutan pinus yang cantik menuju hutan. Di sisi-sisinya terdapat pohon kopi. Juga pepohonan pisang yang tinggi menjulang, sampai pohon salak dan nanas menghiasi kanan dan kiri sepanjang jalan kami.

Hutan semakin lebat, pohon-pohon semakin tinggi dan cahaya semakin sedikit. Saya merasa tidak nyaman memasuki hutan ini. Sepanjang jalan saya berdoa dalam hati, semoga selamat di perjalanan dan tidak terjadi hal-hal yang membahayakan. Jalur pendakian lumayan menanjak, seperti jalur air hanya sanya terkadang terdapat jalan setapak datar sebagai bonusnya. Sekitar 1,5 jam kami sampai di Leuweng Datar 1225 mdpl. Kami rehat sejenak, menikmati udara segar masuk ke rongga paru-paru yang tersengal-sengal. Tidak lama, kami lanjutkan kembali perjalanan. Jalur masih mirip seperti jalur dari Cibunar ke Leuweng Datar, namun kali ini sudah tidak ada lagi kebun milik warga. Tanah lembab kami pijaki selangkah demi selangkah. Sesekali kami bernyanyi demi mengusir lelah. Peluh bercucuran dan baju mulai basah. Tetapi semangat kami terus memacu, ingin menuju tempat yang lebih tinggi. Tidak lama, kami sampai di Condang Amis. Aku tersenyum, dan berpikir dalam hati bahwa pendakian semakin dekat menuju puncak sunan. Target kami untuk bermalam adalah Sangga Buana II, 7 pos lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Di bawah kami menyusul 4 pendaki, yang ternyata sama-sama dari tempatku berasal, Bintaro. Kami ngobrol ala kadarnya, satu diantara mereka pernah mendaki ceremai sebelumnya. Dan kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali setelah berpamitan dengan mereka.

Perjalanan kami lanjutkan, dan kali ini jalur pendakian semakin curam. Ya…karakter suatu gunung. Semakin keatas semakin sadis track yang akan dilalui. Kami terus berjalan, perlahan. Karena kaki-kaki kami mulai letih mendaki. Sesekali kami berhenti, menarik napas dengan cepat beberapa kali untuk menstabilkan kembali detak jantung yang menderu. Setelah mendaki lebih dari satu jam, kami menemukan tempat yang lumayan lapang. Ya…kami sampai di pos Kuburan Kuda 1450 mdpl kira-kira jam 11.10 WIB. Entah mengapa rasanya saya sangat mengantuk di sana. Namun saya berpikir ini adalah suatu kewajaran karena kelelahan dan kurang istirahat semalam. Ternyata Roy da Kodel pun merasakan hal yang sama. Kami memutuskan tidur sejenak di sini. Mungkin kira-kira 10-15 menit kami terlelap. Dan saat terbangun, saya merasa badan saya sangat lemas karena tidur yang tidak memuaskan. Pendaki yang kami temui di bawah belum sampai. Dan kami pun belum bertemu dengan pendaki yang turun.

Saya kencangkan kembali belt carrier bag, dan bersiap mendaki. Tetapi melihat tracknya, saya geleng-geleng kepala. Sudah mulai menanjak curam, 70 derajat. Kontur tanahnya lembab dan lengket. Akan sangat licin bila hujan turun. Semoga perjalanan ini tidak diiringi guyuran hujan, doa saya dalam hati.
Perlahan, dengan berpegang pada akar-akar pepohonan yang menyemb ul dari tanah, saya mendaki, satu-persatu. Nafas yang semakin tersengal, detak jantung yang semakin menderu, peluh yang bercucuran deras, menjadi teman kami dalam perjalanan. Target kami pukul 12.30 sudah sampai di pos pangalap agar bisa istirahat siang sambil mengisi perut. Benar saja, saya bahagia ketika melihat plang yang terikat di pohon “Pangalap 1650 mdpl”. Bahagia karena bisa istirahat, melepas lelah, mengisi perut dan bercanda tanpa napas putus-putus satu-satu.

Disana ada 2 tenda yang didirikan. Sepertinya pendaki-pendaki itu sedang summit karena suasananya sepi. Hanya ada 2 orang yang sedang beristirahat sambil makan roti, seorang pendaki laki-laki dan seorang lagi perempuan. Mereka menawarkan air yang tersisa di botol 1,5 liter. Air nya masih penuh. Langsung saja kami pergunakan untuk masak air untuk membuat kopi dan memasak nasi. Kemudian dilanjutkan dengan menggoreng sosis, tempe tepung, dan kerupuk. Terakhir, sup macaroni sayuran menjadi penutup acara masak-memasak siang ini. Sungguh merupakan makan siang yang mewah…

Kami banyak bercanda di pos ini, menyusun makan sedemikian rupa, menghiasnya dengan daun-daunan, dan berfoto dengan hasil masakan kami, juga menunaikan ibadah yang langsung kami gabung menjadi satu waktu. Tidak terasa sudah pukul 15.00 sore. Ternyata kami sangat lama disini, lupa waktu.seharusnya istirahat siang bisa 1 jam saja, molor menjadi 2,5 jam.

Pendakian pun kami lanjutkan. Track semakin curam. Tidak ada ampun, hampir terus-terusan menanjak hingga 70 derajat kemiringannya. Saya semakin lelah, sepertinya yang saya makan tadi tidak cukup memulihkan energi yang telah terpakai. Setiap kali melihat tanah yang lapang, saya berharap bahwa itu adalah pos Tanjakan Seruni. Tetapi harapan saya sia-sia, sampai satu jam mendaki saya belum menemukan pos itu. Napas sudah semakin sulit, langkah kaki semakin gontai. Sampai akhirnya kira-kira pukul 16.30 kami tiba di pos Tanjakan Seruni 1825 mdpl. Sejauh ini mendaki, kami belum berada di ketinggian lebih dari 2000 mdpl. Saya sudah lelah, hari semakin sore. Saya khawatir tidak akan sampai di Sangga Buana hingga malam nanti.


Kami tidak ingin berlama-lama beristirahat. Terus memburu waktu, kami tetap bertekad melangkah. Saya sudah tindak ingat lagi seperti apa kondisi kanan dan kiri sepanjang jalur pendakian ini. Yang saya ingat hanya ada jalur air, kecuraman, batu-batu, jalur air lagi, akar, pohon, dan entah apalagi. Sekeliling sangat rimbun dengan semak hutan. Tanjakan ini benar-benar menyiksa, tidak kunjung sampai, dan entah sampai kapan. Napas semakin terengah, dan saya mulai limbung. Kepala saya pusing, dan terada tekanan darah saya menurun. Saya minta break sebentar, duduk, bersandar, dan memejamkan mata. Lima menit sudah terlewati, tapi saya tak ingin beranjak, saya merasa sangat lelah. “Ayo, jalan lagi”, ucap Kodel menyadarkan saya bahwa perjalanan masih jauh.

Kembali kami mneyusuri jalanan tanah lembab dan berakar, memanjat dari satu pijakan ke pijakan lain. Saya merasa putus harapan, hampir menyerah, ingin rasanya berkata “break” atau “ pulang aja yuk” dan “cari lahan buat ng-camp ya, capeee..”. Tapi syukurlah kata-kata itu tidak keluar dari bibir saya. Saya belum menyerah. Sampai akhirnya kami berada di pos Bapa Tere 2025 mdpl. Masih 3 pos lagi, dan saya bisa tidur dengan nyaman…

Kami terus berjalan, menahan beban punggung yang semakin berat, ketinggian yang sudah melewati 2000 mdpl ini menyemangati saya untuk terus melangkah. Cahaya semakin sedikit, hari semakin gelap. Kami bertemu dengan dua orang pendaki yang hendak turun, dan mereka menyarankan untuk membangun camp si shelter-shelter kecil sepanjang pendakian antara Bapa Tere – Batu Lingga. Sepertinya mereka ingin menyampaikan sesuatu, hal yang tersirat, bahwa sebaiknya tidak mendirikan camp di Batu Lingga. Saya, yang kelelahan ini, terserah pada Kodel dan Roy akan mendirikan camp dimana, yang penting bisa istirahat dan meluruskan kaki-kaki yang semakin pegal.

Perjalanan berlanjut, kami bertemu pendaki yang mendirikan camp di jalan dengan tanah sedikit lapang. Mereka memberikan 1 botol air kepada kami. Awalnya kami menolak karena persediaan air sangat cukup. Tetapi entah mengapa mereka sangat memaksa, dan Roy menerima air tersebut. Kami berterima kasih atas pemberian air tersebut. Lumayan sebagai cadangan. Saya dan Dika berpikir bahwa kami sangat hoki, 2 kali diberi air oleh pendaki, total 3 liter. Jumlah yang lumayan banyak untuk 3 orang pendaki. Tiba-tiba dijalan hujan mengguyur tanpa ampun. Hari sudah gelap, dan masing-masing dari kami menyalakan senter sebagai satu-satunya penerangan.

“Kita camp di Batu Lingga aja”, ucap Kodel waktu itu. Saya dan Roy mengiyakan. Perjalanan semakin berat, jalanan yang licin, hujan yang turun dengan derasnya, dan malam hari, membuat langkah kaki saya terseok, melambat, kelelahan. Saya semakin limbung, serasa sudah tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan. Sedikit melangkah, saya terhenti. Melangkah lagi, dan berhenti lagi. Mengumpulkan napas yang semakin sesak karena oksigen yang semakin tipis dan harus berebut dengan tumbuhan-tumbuhan yang menjulang.

“kalau jam setengah lapan belum sampe Batu Lingga, kita camp di jalan cari tanah lapang”, kali ini Kodel berkata seperti tahu bahwa saya sudah tidak kuat lagi. Jalanan semakin sulit untuk dilalui, beban semakin berat untuk digendong, dan kaki-kaki ini semakin lemah mengikuti jalanan yang terus mendaki. Saya berharap semoga cepat bertemu dengan Batu Lingga. Tapi sepertinya waktu berjalan melambat. Hujan belum juga berhenti. Sedangkan saya, hampir menangis putus asa. Sampai akhirnya, Roy berkata “Batu Lingga” tepat pukul 19.00 malam.Alhamdulillah… (bersambung)

Menyapa Kaldera Gunung Ceremai di Penghujung Tahun 2012 [Part1]


Disinilah…
Di titik tertinggi di Jawa Barat…
Aku berdiri, tertegun, tanpa mampu bicara
Bahwa Kau mencipta segalanya
Dan aku adalah bukan siapa-siapa…





Ya…
Kata-kata di atas benar-benar melukiskan isi hati saya saat menjejakkan kaki di titik tertinggi bumi priyangan Jawa Barat. Saat letih terhapus hamparan langit biru dan gumpalan awan cantik sebagai nuansa hiasannya. Batu-batu cadas mengelilingi seluruh puncak Ceremai, sang bibir kaldera…

Jumat malam, 28 Desember 2012 saya bersiap mengemasi barang-barang yang akan dibawa untuk perjalanan kali ini. Perjalanan yang telah direncanakan tiga minggu sebelumnya dan sempat gagal berangkat di akhir minggu lalu karena ritme pekerjaan yang ternyata tidak bisa ditinggalkan dan kondisi fisik yang kurang baik. Saya pergi bersama Dika/Kodel dan Roy. Di banding mereka, saya adalah pendaki abal-abal yang minim pengalaman. Berbekal tekad yang kuat dan rasa kagum akan sebuah titik ketinggian, saya menggendong carrier bag yang penuh muatan.

Pukul 22.00 WIB, kami bertemu di terminal Lebak Bulus, karena terminal itulah akses yang palng dekat bagi kami bertiga untuk berkumpul. Setelah saling berjabat tangan dan menyapa, kami buru-buru memasuki terminal dengan membayar retribusi Rp. 3.000,- untuk tiga orang. Kami sedikit pesimis, apakah akan mendapatkan bus yang menuju Cirebon. Berdasarkan informasi dari bapak penjaga pintu terminal, bus ekonomi menuju Cirebon akan berangkat sebentar lagi. Beruntungnya kami, saat kami naik bus tersebut, ternyata masih tersisa 3 kursi walaupun harus menekuk pinggang 90 derajat. Maklum, bus yang kami tumpangi adalah bus ekonomi, Lur Agung, jurusan Sindang Laut Cirebon. Hanya bus itu yang menuju Cirebon.

Kondektur bus mulai menarik ongkos dari setiap penumpang, Rp 45.000,- dan tertulis di tiketnya “lindungilah dalam perjalanan sampai tempat tujuan”.Bus pun bergerak lambat larut dalam kemacetan Jakarta. Namun itu hanya sesaat, karena setelah melewati pintu tol, supir bus mulai menampilkan kehebatannya. Bus mulai ganas berlari melewati setiap kendaraan, seakan tidak ingin kalah dalan berlomba lari marathon. Sang supir tidak perduli bahwa pemumpang berjejalan berdiri. Kanan, kiri, tengah, semua dilewati. Sampai akhirnya saya terlelap diantara penumpang yang entah sedang berpikir hal yang sama atau tidak tentang sang supir.

Tiba-tiba saya terbangun saat mendengar suara keras dari sisi sebelah kiri. Ternyata sang supir terlalu dekat dengan sebuah truck di sisi kiri sehingga menyenggol spion. Sungguh merupakan hal yang membuat jantung saya terpacu, deg-degan. Tetapi karena ngantuk yang sangat hebat, saya kembali tertidur. Entah dimana dan jam berapa, saya mendapati kemacetan sepanjang jalur pantura. Dan lagi-lagi macan pantura ini menunjukkan aksi mencekamnnya. Ya…sang supir membawa kendaraannya ke sisi lawan yang lebih sepi dan lancer. Pembatas jalan pun dilaluinya sehingga bus benar-benar melawan arus.

Sampai akhirnya sang kondektur berteriak-teriak “Kuningan Linggar jati Cilimus” saya dan kedua teman saya turun di sebuah persimpangan sepi. Terdapat plang menuju Semarang, Kuningan, dan Sindang Laut dengan arah yang berbeda. Kami menyeberangi jalanan sangat hati-hati. Di sini ternyata banyak pembalap abal-abal yang sebenarnya tidak ada lawannya karena mengendara di pagi buta, pukul 04.00 pagi.

Tidak lama, melintas mobil Avanza, seorang bapak yang duduk di samping supir menanyakan arah tujuan kami “ Mau ke Ceremai ya dek? Lewat Linggarjati?bareng aja, soalnya mobil kea rah Cilimus belum ada kalau subuh begini” kira-kira begitu sang bapak menawarkan.Sesaat saya ragu. Tapi Kodel meyakinkan dengan isyarat mata “ tidak apa-apa”. Akhirnya kami bertiga menumpang mobil itu. Dengan kesepakatan mendadak kami memberikan uang rokok untuk sang supir sebesar Rp.50.000,-. Hitung-hitung sebagai ongkos dari pertigaan Sindang Laut tadi. Kami berhenti di depan Indomart dekat terminal Cilimus untuk membeli logistic yang kurang. Ternyata sang bapak bersedia tanpa kami minta mengantarkan sampai ke pertigaan Linggarjati melewati terminal Cilimus padahal tujuan awalnya adalah Cilimus. Dengan senang hati kami mengiyakan, dan tanpa diduga kami malah diantar sampai pos pendaftaran basecamp Linggarjati. Terima kasih ya pak… (bersambung)

Foto ini diambil sesaat sebelum pendakian